UM – Suasana kelas Algoritma dan Teknik Pemrograman, Selasa (9/12/2025), terasa tegang sekaligus antusias. Bukan karena kuis mendadak, tetapi tantangan langsung mengerjakan soal dari dosen untuk menguji mental dan kemampuan praktis mahasiswa di depan kelas.
Tantangan ini bukan sekadar latihan biasa, tapi live coding menyelesaikan satu tugas paling krusial di dunia kerja: data cleaning (pembersihan data), fondasi utama Data Science.
Materi pertemuan ke-13 tentang Struktur Data Tuple dan Operasi String ini menjadi sorotan utama. Memasuki operasi lanjutan pada String (teks), sebuah keahlian yang sering dianggap remeh namun menjadi kunci penting bagi seorang Data Scientist.
“Faktanya, 80% waktu seorang Data Scientist dihabiskan bukan untuk membuat model AI yang canggih, tapi untuk membersihkan data mentah yang berantakan,” kata Subur Anugerah, dosen yang mengajar.
“Sebagian besar data itu berbentuk teks. Menguasai metode seperti .upper, .lower .strip(), .split(), .title(), hingga .replace() adalah keharusan mutlak,” tambahnya.
Setelah menjelaskan konsep, ia melemparkan tantangan ke seluruh kelas. Sebuah soal latihan untuk mem-parsing data email, seperti memisahkan username dan domain, harus diselesaikan secara live coding di depan.
“Ayo, yang bisa silakan maju di depan. Kasih paham teman-temanmu,” tantang Subur kepada para mahasiswa.
Beberapa mahasiswa yang sudah berhasil mengerjakan soal di laptop masing-masing tampak ragu-ragu. Akhirnya, seorang mahasiswa dengan percaya diri maju.
Namun, tekanan tampil di depan teman-teman dan dosen membuatnya grogi. Kode yang tadinya lancar diketik, mendadak terlupa. Jari-jemarinya berhenti di atas keyboard, berusaha mengingat kembali logika yang harus ditulis.
Melihat temannya kesulitan, suasana kelas menjadi gaduh. Namun, di situlah budaya kolaboratif terlihat. Seorang mahasiswa lain mengangkat tangan datang untuk membantu melanjutkan.
“Pakai metode .split(‘@’) dulu, bro,” sahut temannya yang lain.
Mahasiswa sadar dan berhasil menyelesaikan kodenya. Tak lama, mahasiswa lain ikut maju dan dengan percaya diri menyelesaikan soal latihan berbeda, kali ini tentang membersihkan input nama pengguna yang tidak konsisten.
Sesi yang awalnya menegangkan berubah menjadi ajang pembuktian dan pembelajaran bersama yang dinamis.
Dosen tersenyum. Menurutnya, metode ini sengaja dirancang untuk membangun dua hal penting: kompetensi teknis dan mentalitas industri.
“Di dunia kerja nanti, mereka akan presentasi di depan klien atau manajer. Gugup itu biasa, tapi logika harus tetap jalan. Nah, di sini gak cuma mencetak programmer, tetapi juga problem solver tangguh dan percaya diri,” terangnya.
Pembelajaran praktis seperti ini menjadi daya tarik utama Program Studi S1 Informatika Universitas Mulia.
Mahasiswa tidak hanya dicekoki teori, tetapi terus-menerus didorong untuk menerapkan ilmunya dalam studi kasus yang relevan dengan kebutuhan industri digital saat ini, khususnya di bidang yang sedang naik daun seperti Data Science, Kecerdasan Artifisial, dan Rekayasa Perangkat Lunak.
Bagi para calon talenta digital yang akan lulus SMA nanti dan ingin merasakan atmosfer perkuliahan yang menantang, praktis, dan relevan dengan masa depan, Program Studi S1 Informatika Universitas Mulia membuka pintu penerimaan mahasiswa baru tahun akademik 2026 mendatang.
Siapkan diri Anda untuk tidak hanya belajar coding, tetapi untuk menjadi pemecah masalah yang siap ‘kasih paham’ di dunia teknologi.
Kontributor: Subur Anugerah
