UM – Di tengah maraknya adopsi kecerdasan artifisial (AI), mahasiswa Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Mulia tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga menjadi garda terdepan dalam mitigasi risikonya.
Melalui mata kuliah inovatif Literasi Generatif AI, mereka berhasil membedah dan merancang Peringatan Publik (Public Service Announcement – PSA), Selasa (21/10/2025). PSA digunakan untuk melawan salah satu modus penipuan siber terkini yang paling meresahkan: bukti transfer palsu yang dibuat menggunakan AI.
Ancaman ini, yang menyasar jutaan pelaku usaha online dan UMKM di Indonesia, yang saat ini menjadi lebih berbahaya.
Jika dulu bukti transfer palsu mudah dikenali dari editan yang kasar, kini dengan AI generatif mampu menciptakan gambar bukti transfer palsu yang sangat rapi, meyakinkan, dan sulit dibedakan dengan mata telanjang.
Menjawab tantangan ini, sebuah kelompok mahasiswa yang terdiri dari Zahra Esa Sahratu, Nabilla Putri Pranita, Nur Amandha Rizky, dan Sholehah, berhasil merumuskan panduan praktis yang dinilai paling efektif dalam sebuah tugas simulasi sebagai “Satgas Waspada Investasi & Kejahatan Siber OJK”.
Mereka mungkin berpikir AI hanya alat bantu untuk mengerjakan tugas. Tetapi, dengan adanya tugas ini, mereka menjadi sadar bahwa di tangan yang salah, AI bisa menjadi senjata yang sangat merusak.
“Tugas ini membuat kami merasa punya tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat, terutama para pebisnis kecil seperti keluarga kami sendiri,” terang Sahratu.


Tiga Tanda Bahaya dan Tiga Langkah Pencegahan Emas
Hasil analisis mereka, yang kini berpotensi menjadi materi edukasi publik, merangkum cara kerja dan pertahanan dari modus penipuan ini. Draf PSA mereka menyoroti tiga tanda bahaya utama yang harus diwaspadai setiap penjual online:
- Kejanggalan Visual Halus: Meskipun rapi, bukti transfer buatan AI mungkin memiliki keanehan pada font, format tanggal, atau warna yang sedikit berbeda dari standar m-banking pada umumnya.
- Data Tidak Sinkron: Nomor rekening atau nama pengirim yang tertera pada bukti transfer tidak sesuai dengan nama pemesan barang.
- Tekanan Psikologis: Pelaku cenderung mendesak, meminta konfirmasi, atau meminta barang segera dikirim dengan alasan terburu-buru, berharap korban tidak sempat melakukan pengecekan.
Sebagai solusinya, mereka merekomendasikan tiga langkah pencegahan yang wajib menjadi standar operasional bagi para penjual:
- Cek Mutasi Rekening, Bukan Screenshot: Jadikan pengecekan langsung di aplikasi m-banking atau notifikasi resmi dari bank sebagai satu-satunya validasi yang sah sebelum mengirim barang.
- Gunakan Platform Transaksi Aman: Manfaatkan marketplace atau e-wallet resmi yang memiliki sistem konfirmasi pembayaran otomatis untuk meminimalisir risiko.
- Jangan Bertindak di Bawah Tekanan: Abaikan desakan dari pembeli. Konfirmasi dana masuk adalah prioritas utama.
Kurikulum yang Menjawab Zaman
Keberhasilan mahasiswa ini bukanlah kebetulan, melainkan cerminan dari visi pendidikan Universitas Mulia yang adaptif.
Mata kuliah Literasi Gen AI dirancang khusus untuk tidak hanya membekali mahasiswa dengan kemampuan teknis, tetapi juga dengan kesadaran etis dan keterampilan berpikir kritis.
Subur Anugerah, S.T., M.Eng., dosen Informatika Fakultas Ilmu Komputer, yang sehari-hari menjadi pengampu mata kuliah ini, menjelaskan filosofi di baliknya.
“Di era digital, sekadar bisa menggunakan teknologi itu tidak cukup. Kami ingin lulusan kami beralih dari pengguna pasif menjadi pemikir kritis. Mereka harus mampu menganalisis, mengantisipasi, dan memitigasi dampak sosial dari teknologi yang mereka gunakan atau bahkan yang akan mereka kembangkan nanti,” ujarnya.
Inisiatif ini sejalan dengan tujuan Universitas Mulia untuk mencetak Praktisi Teknologi yang Kritis dan Bertanggung Jawab.
Dengan membekali mahasiswa dengan kemampuan untuk “menjinakkan” kompleksitas AI, Universitas Mulia tidak hanya mempersiapkan mereka untuk pasar kerja, tetapi juga untuk menjadi warga digital yang mencerahkan dan melindungi komunitasnya.
Inisiatif seperti yang dilakukan Universitas Mulia ini menjadi bukti bahwa pendidikan tinggi harus bergerak cepat, melahirkan kurikulum yang tidak hanya relevan, tetapi juga esensial untuk bertahan dan berkembang di tengah ekonomi digital yang kompleks dan penuh tantangan.
(SA/Kontributor)
