UM – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan artifisial generatif (Generative AI), ancaman kejahatan siber pun berevolusi. Bukti transfer palsu yang kini semakin sempurna, hingga pemerasan dengan video dan foto hasil manipulasi deepfake, menjadi tantangan baru bagi keamanan digital masyarakat.
Namun, di Prodi Teknik Industri Universitas Mulia, tantangan ini disambut dengan edukasi yang mencerahkan di kelas, Rabu (22/10/2025). Dalam mata kuliah Literasi Generatif AI, mahasiswa tidak hanya belajar prompt chat GPT saja, tetapi juga cara menjadi pelindung di era digital.
Hasilnya terwujud dalam sebuah proyek Peringatan Layanan Publik (Public Service Announcement/PSA), yang dinilai layak menjadi materi publikasi untuk publik, karena ketajaman analisis dan relevansinya yang tinggi.
Menganalisis Ancaman AI
Dosen Informatika Fakultas Ilmu Komputer, Subur Anugerah, yang mengampu mata kuliah ini menjelaskan, tujuan tugas PSA ini adalah agar mahasiswa belajar mengubah pengetahuan teoritis menjadi tindakan praktis.
“Literasi Generatif AI bukan hanya tentang membuat gambar atau teks dengan AI, melainkan memahami vektor ancaman yang diciptakannya. Ketika AI bisa membuat bukti transfer palsu dengan sempurna atau meniru suara seseorang, mahasiswa harus mengenali tanda bahayanya,” ujarnya.
Dua topik PSA yang paling menonjol dan relevan dengan teknologi AI modern adalah:
1. Modus Bukti Transfer Palsu (Kelompok 1 & 4)
Mahasiswa berhasil mengidentifikasi detail kelemahan modus penipuan, yang sering menggunakan AI untuk memanipulasi tangkapan layar.
- Analisis Tajam: Kelompok 4 dan 1 menyoroti perlunya kewaspadaan terhadap bukti transfer yang terlihat berhasil namun saldo belum masuk serta pelaku yang mendesak ingin buru-buru pergi. Kelompok ini bahkan mencatat red flag seperti ketidaksesuaian tata letak font pada bukti transfer, sebuah detail yang dihasilkan dari kecerobohan AI generatif.
- Aplikasi Praktis: Saran yang tegas: Selalu cek mutasi rekening secara langsung, jangan hanya percaya pada visual bukti transfer.
2. Ancaman Pemerasan Digital (Sextortion dan Deepfake) (Kelompok 5 & 7)
Meski tidak presentasi karena keterbatasan waktu, kelompok ini membuat PSA yang komprehensif membahas pemerasan digital. Isu ini dinilai menyentuh keamanan psikis dan moral, yang diperparah dengan kemampuan AI menciptakan konten intim palsu (deepfake).
Pesan Kunci: Kelompok ini berhasil merumuskan tiga tanda bahaya dan langkah tegas untuk korban: “JANGAN BAYAR!” dan “Segera Blokir Pelaku dan Lapor Polisi Siber/Komnas Perempuan.” Pesan ini sangat penting untuk memberikan kekuatan pada korban agar tidak terjebak dalam lingkaran pemerasan.



Belajar Menjadi Pelindung Digital Masa Depan
Tugas kuliah proyek PSA ini menjadi sarana edukasi yang tepat yang dapat menjadi tameng paling efektif melawan kejahatan siber yang semakin canggih.
Mata kuliah Literasi Generatif AI dirancang untuk memastikan setiap lulusan siap menghadapi era industri 5.0, yakni teknologi dan etika digital berjalan beriringan.
Mahasiswa tidak lagi dipandang hanya sebagai pengguna, melainkan sebagai analis kritis, inovator, dan pelindung di ruang digital.
“Saya berharap mahasiswa dan lulusan nantinya tidak hanya mencari pekerjaan, tetapi juga turut mengamankan masa depan digital kita bersama,” ujarnya.
Menurutnya, pendidikan tinggi harus adaptif, mengajarkan cara menggunakan AI dan cara melindungi diri dan komunitas dari AI yang disalahgunakan.
Universitas Mulia mengundang para calon mahasiswa untuk bergabung dan menjadi bagian dari generasi yang cerdas menggunakan teknologi, sekaligus beretika dan mampu melawan ancaman digital yang paling canggih sekalian.
(SA/Kontributor)
