UM – Di tengah persaingan dunia kerja yang semakin ketat, mahasiswa dituntut untuk tidak sekadar mengejar ijazah, tetapi juga membangun kompetensi unik dan nilai tambah sejak di bangku kuliah.
Pesan kuat ini disampaikan oleh Syarifuddin, Kepala BPSDMP Kominfo Banjarmasin, dalam penutupan pelatihan “DEA Pemasaran Digital dengan Kecerdasan Buatan (AI) untuk Wirausaha” di hadapan para mahasiswa Universitas Mulia, Rabu (17/9).
Dalam sambutannya yang sarat dengan pengalaman pribadi, Syarifuddin mendorong mahasiswa untuk mengubah pola pikir dari konsumen pasif menjadi kreator proaktif, terutama dengan memanfaatkan teknologi AI yang kini mudah diakses.
AI Bukan Sekadar Alat Mengerjakan Tugas, tapi Mitra Wirausaha
Syarifuddin membuka wawasan mahasiswa dengan menyoroti penggunaan AI seperti ChatGPT dan Gemini. Menurutnya, AI bukan hanya jalan pintas untuk menyelesaikan tugas kuliah atau coding, melainkan sebuah potensi besar untuk melahirkan inovasi dan peluang wirausaha.
“Siapa di sini yang punya akun ChatGPT? Berbayar atau gratis?” tanyanya, yang disambut antusias oleh para mahasiswa.
“AI bisa kita gunakan untuk memajukan potensi diri kita. Mau bikin artikel, riset pasar untuk produk kuliner, atau bahkan membuat profil usaha dari nol, AI bisa menjadi mitra dialog yang cerdas,” jelasnya.
Ia menekankan bahwa dengan AI, keterbatasan modal tidak lagi menjadi alasan utama untuk tidak memulai usaha. Mahasiswa bisa menjadi reseller, dropshipper, atau bahkan menghasilkan konten kreatif yang memiliki nilai jual.

Garis Start Sebenarnya Adalah Lulus Kuliah, Bukan Akhir
Salah satu pesan paling kuat yang disampaikannya adalah ajakan untuk merencanakan masa depan secara strategis. Ia mengkritik pola pikir yang menjadikan ijazah sebagai tujuan akhir.
“Kalau cita-cita kalian hanya lulus dapat ijazah, ya sudah tercapai setelah wisuda. Tapi setelah itu mau apa?” tanyanya retoris.
“Lulus itu bukan garis finish, tapi garis start. Persaingan di luar sana 1 banding 100. Kalian butuh ‘nilai plus’,” tegasnya.
Ia mendorong mahasiswa untuk mempersiapkan bekal sejak dini. Jika bercita-cita melanjutkan S2 ke Jepang, mulailah belajar bahasanya sekarang. Jika ingin bekerja di perusahaan multinasional, kejar sertifikasi TOEFL dengan skor tinggi selagi fasilitas di kampus masih tersedia.
“Manfaatkan semua fasilitas yang ada di kampus. Pusat bahasa, perpustakaan, organisasi. Semua itu adalah bagian dari proses untuk membangun keunggulan diri yang tidak dimiliki orang lain,” tambahnya.
Belajar dari Kisah Nyata: Dari Jual Pensil Hotel hingga Diterima Kerja karena Bahasa Daerah
Untuk memberikan inspirasi nyata, Syarifuddin membagikan berbagai kisah inspiratif dari kehidupannya. Mulai dari keponakannya yang di usia SD sudah bisa menghasilkan uang dengan menjual pensil hotel kepada teman-temannya, hingga pengalamannya sendiri saat melamar kerja di bank.
“Saat tes di Bank Mandiri, saya dengan percaya diri mengaku menguasai empat bahasa: Bugis, Banjar, Jawa, dan Indonesia,” kenangnya sambil tersenyum.
“Awalnya ditertawakan, tapi saya jelaskan bahwa 90% nasabah adalah warga lokal. Pendekatan dengan bahasa daerah akan menciptakan kedekatan emosional (proximity) yang tidak bisa didapat dengan bahasa formal. Akhirnya, saya diterima.”
Kisah ini menjadi bukti bahwa setiap individu memiliki keunikan yang bisa menjadi kekuatan, asalkan mampu melihat peluang dan mengemasnya dengan baik.
Kekuatan Doa Ibu sebagai Kunci Pembuka Jalan
Di akhir sambutannya, Syarifuddin mengingatkan sebuah kunci kesuksesan yang sering terlupakan, yaitu restu dan doa orang tua, khususnya ibu. Menurutnya, segala ikhtiar dan kerja keras harus diimbangi dengan kekuatan spiritual.
“Hormati orang tuamu, terutama ibumu. Di balik setiap pencapaian saya, selalu ada doa dari ibu saya. Kekuatan doa itu yang seringkali membuka jalan di saat kita merasa buntu,” pesannya.
Pelatihan ini ditutup dengan harapan besar agar para mahasiswa Universitas Mulia tidak hanya menjadi sarjana, tetapi juga menjadi wirausahawan andal, profesional yang kompeten, dan individu yang siap memenangkan persaingan di era digital dengan bekal skill, kreativitas, dan karakter yang kuat.
(SA/Kontributor)
